JENDELA

Cara Memandang Dunia yang Kompleks

Archive for Communication

Four Theories of the Press

Teori Pers Otoritarian
Muncul pada masa iklim otoritarian di akhir Renaisans, segera setelah ditemukannya mesin cetak. Dalam masyarakat seperti itu, kebenaran dianggap bukanlah hasil dari masa rakyat, tetapi dari sekelompok kecil orang–orang bijak yang berkedudukan membimbing dan mengarahkan pengikut-pengikut mereka. Jadi kebenaran dianggap harus diletakkan dekat dengan pusat kekuasaan. Dengan demikian pers difungsikan dari atas ke bawah. Penguasa-penguasa waktu itu menggunakan pers untuk memberi informasi kepada rakyat tentang kebijakan-kebijakan penguasa yang harus didukung. Hanya dengan izin khusus pers boleh dimiliki oleh swasta, dan izin ini dapat dicabut kapan saja terlihat tanggungjawab mendukung kebijaksanaan pekerjaan tidak dilaksanakan. Kegiatan penerbitan dengan demikian merupakan semacam persetujuan antara pemegang kekuasaan dengan penerbit, dimana pertama memberikan sebuah hak monopoli dan terakhir memberikan dukungan. Tetapi pemegang kekuasaan mempunyai hak untuk membuat dan merubah kebijaksanaan, hak memberi ijin dan kadang-kadang menyensor. Jelas bahwa konsep pers seperti ini menghilangkan fungsi pers sebagai pengawas pelaksanaan pemerintahan.

Teori Pers Libertarian
Teori ini memutarbalikkan posisi manusia dan negara sebagaimana yang dianggap oleh teori Otoritarian. Manusia tidak lagi dianggap sebagai mahluk berakal yang mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, antara alternatif yang lebih baik dengan yang lebih buruk, jika dihadapkan pada bukti-bukti yang bertentangan dengan pilihan-pilihan alternatif. Kebenaran tidak lagi dianggap sebagai milik penguasa. Melainkan, hak mencari kebenaran adalah salah satu hak asasi manusia. Pers dianggap sebagai mitra dalam mencari kebenaran.
Dalam teori Libertarian, pers bukan instrument pemerintah, melainkan sebuah alat untuk menyajikan bukti dan argumen-argumen yang akan menjadi landasan bagi orang banyak untuk mengawasi pemerintahan dan menentukan sikap terhadap kebijaksanaannya. Dengan demikian, pers seharusnya bebas dari pengawasan dan pengaruh pemerintah. Agar kebenaran bisa muncul, semua pendapat harus dapat kesempatan yang sama untuk didengar, harus ada pasar bebas untuk pemikiran-pemikiran dan informasi. Baik kaum minoritas maupun mayoritas, kuat maupun lemah, harus dapat menggunakan pers.
Sebagian besar negara non komunis, paling tidak di bibir saja, telah menerima teori pers Libertarian. Tetapi pada abad ini telah ada aliran-aliran perubahan. Aliran ini berbentuk sebuah Otoritarianisme baru di negara-negara komunis dan sebuah kecenderungan kearah Liberitarianisme baru di negara-negara non komunis.

Read the rest of this entry »

Advertisements

Stereotypes in Media Communication

Stereotype adalah citra mental yang melekat pada sebuah grup/atau kelompok. Didunia yang kompleks dan ambigu, kita sering mencari cara menghadapi dan menyederhanakan kenyataan hidup sehari-hari. Kebanyakan pengetahuan yang kita ketahui berdasarkan pengalaman, dan kita cenderung untuk membagi informasi orang kedua dan menerapkannya dalam menggambarkan paham tentang sebuah kelompok dalam masyarakat. Read the rest of this entry »

BAGAIMANA REGULASI KEPEMILIKAN MEDIA

Ini pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Di kalangan negara Uni Eropa, pembatasan jadi bahasan serius. Mereka menemukan kasus Italia sebagai bahan untuk memecahkan masalah ini. Di AS justru ada tendensi badan regulasi di sana membuat industri media bisa berkembang makin besar dan besar. Itu kecurigaan yang menghinggapi sejumlah pengamat media yang khawatir akan dampak makin terintegrasinya industri media global, khususnya di AS. Read the rest of this entry »

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!